Jelaskan Isi Khutbah Wada

Advertisement

Pada kali ini Sarana Bertanya akan jelaskan isi khutbah wada. Nabi Muhammad saw menyampaikan khutbah terakhirnya pada kesembilan Dzulhijjah di tahun ke-10 setelah Hijrah (migrasi dari Mekah ke Madinah). Khutbah ini adalah contoh terbaik dari kefasihan, keringkasan dan isi pesan itu manusiawi dan ditekankan pada keadilan dan kesetaraan. Pesan dalam khotbah disampaikan lebih dari empat belas abad yang lalu dan merupakan esensi dari pesan yang benar dan filosofi iman Islam.

Nabi Muhammad Saw, semoga rahmat dan berkah dari Allah besertanya, lahir di Mekkah, Arab Saudi sekitar tahun 570 M. Ia adalah teladan bagi seluruh umat manusia. Dia adalah pria yang luar biasa setiap saat. Dia unggul dalam semua bidang kehidupan dengan menjadi nabi, penguasa, orator, tentara, suami, teman, ayah, paman, keponakan, dan kakek. Dia adalah seorang lelaki penuh cinta, kesabaran, keberanian, kebijaksanaan, kemurahan hati, kecerdasan dan kekuatan yang mengilhami jutaan jiwa di seluruh dunia.

Misi kenabiannya dimulai pada usia empat puluh tahun, sekitar tahun 610 M, dan berlanjut hingga tahun 632 M. Dari jalan ketidaktahuan, umat manusia mengarah ke jalan yang lurus dan diberkati dengan bimbingan Allah. Sesaat sebelum wafatnya, Nabi Muhammad menyampaikan khotbah selama Haji, yang kemudian dikenal sebagai “Khotbah Terakhir” -nya. Khotbah terakhir ini bukan hanya pengingat bagi para pengikutnya, tetapi juga sebuah peringatan penting. Khotbah terakhir menegaskan akhir dari Misi Kenabiannya.

Tahun 10 dari Kalender Islam dianggap sebagai salah satu tahun paling signifikan karena tiga alasan. Pertama, ini adalah tahun ketika Nabi menyampaikan Khotbah Terakhirnya selama ziarah perpisahannya ke Mekkah. Kedua, ini adalah tahun di mana sejumlah utusan datang kepada Nabi untuk mengumumkan Islam mereka serta suku-suku mereka. Ketiga, itu adalah periode emas Islam ketika banyak orang memeluk iman dengan menerima pesan Nabi.

Jelaskan Isi Khutbah Wada

Nabi Muhammad melakukan ziarah perpisahan di tahun 10 H Ziarahnya ke Mekkah adalah salah satu peristiwa sejarah paling penting di pikiran umat Islam, karena itu menjadi model untuk melakukan rukun Islam kelima, haji. Khotbah terakhir Nabi Muhammad disampaikan saat Haji tahun 632 M, hari kesembilan Dhul Hijjah, bulan ke-12 tahun lunar, di Arafah, hari yang paling berkah sepanjang tahun. Ada banyak Muslim yang hadir dengan Nabi selama ziarah terakhirnya ketika ia menyampaikan Khotbah terakhirnya.

Bahkan sampai hari ini Khutbah Terakhir Nabi Muhammad disampaikan oleh setiap Muslim di setiap sudut dunia melalui semua kemungkinan sarana komunikasi. Muslim diingatkan tentang hal itu di masjid dan di kuliah. Sesungguhnya makna yang ditemukan dalam khotbah ini memang mengejutkan, menyentuh beberapa hak paling penting yang Tuhan miliki atas kemanusiaan, dan kemanusiaan memiliki satu sama lain. Meskipun jiwa Nabi telah meninggalkan dunia ini, kata-katanya masih hidup di dalam hati kita.

Isi khutbah secara tepat ada dalam beberapa hadits, dan berikut ini adalah cuplikan dari khutbah tersebut.

“Wahai manusia sekalian, dengarkanlah perkataanku ini, sebab aku tak mengetahui apakah aku bisa berjumpa kalian lagi sesudah tahun ini di tempat wukuf ini”.

(1) Larangan Membunuh Jiwa dan Mengambil Harta Orang Lain Tanpa Hak

Wahai manusia sekalian, sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian adalah haram/dilindungi, sebagaimana mulianya hari ini di bulan yang mulia ini, di negeri yang mulia ini.

(2) Kewajiban Meninggalkan Tradisi Jahiliyah seperti Pembunuhan Balasan dan Riba

Ketahuilah sesungguhnya seluruh tradisi jahiliyah mulai hari ini tak boleh dilaksanakan lagi. Segala sesuatu yang berkaitan dengan perkara kemanusiaan (sepertihalnya pembunuhan, dendam, dan lain-lain) yang sudah terjadi di masa jahiliyah, hari ini seluruhnya dihapuskan dan tak boleh berlaku lagi. Dan hari ini aku nyatakan pembatalan pembunuhan balasan secara jahiliyah yang pertama adalah pembalasan atas terbunuhnya Ibnu Rabi’ah bin Haris yang terjadi pada masa jahiliyah dahulu. Perjanjian riba yang dikerjakan pada masa jahiliyah juga dihapuskan dan tak berlaku lagi sejak hari ini. Perjanjian riba pertama yang aku nyatakan tak berlaku lagi adalah perjanjian riba atas nama pamanku sendiri Abbas bin Abdul Muthalib. Sesungguhnya semua perjanjian riba itu semuanya batal dan tidak boleh berlaku lagi.

(3) Mewaspadai Gangguan Syaitan dan Kewajiban Menjaga Agama

Wahai manusia sekalian, Sesungguhnya syetan itu sudah berputusasa untuk bisa disembah di negeri ini, akan tetapi syetan bakal terus berusaha (untuk menganggu kamu) dengan cara yang lain. Syetan bakal berbangga kalau kamu sekalian menaatinya untuk mengerjakan pelanggaran kecil yang terus-menerus. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjaga agama kamu dengan baik.

(4) Larangan Mengharamkan yang Dihalalkan dan Sebaliknya

Wahai manusia sekalian, Sesungguhnya mengubah-ubah bulan suci itu akan menambah kekafiran. Dengan cara itulah orang-orang kafir menjadi tersesat. Pada tahun yang satu mereka langgar dan pada tahun yang lain mereka sucikan untuk disesuaikan dengan hitungan yang telah ditetapkan kesuciannya oleh Allah. Kemudian kamu menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang telah dihalalkanNya.

Sesungguhnya zaman akan terus berputar, sebagaimana keadaan berputarnya pada waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun adalah dua belas bulan. Empat bulan diantaranya yaitu bulan-bulan suci. Tiga bulan berturut-turut : Zul Qa’dah, Zul Hijjah, dan Muharram. Bulan Rajab adalah bulan antara bulan Jumadil Akhir dan bulan Sya’ban.

(5) Kewajiban Memuliakan Wanita (Isteri)

Takutlah kepada Allah dalam bersikap kepada kaum wanita, sebab kalian sudah mengambil mereka dengan amanah atas nama Allah dan hubungan badan dengan mereka sudah dihalalkan untuk kamu sekalian dengan nama Allah.

Sesungguhnya kalian memiliki kewajiban terhadap isteri kalian dan isteri kalian memiliki kewajiban terhadap diri kalian. Kewajiban mereka terhadap kalian yaitu mereka tak boleh memberi izin masuk orang yang tidak kalian sukai ke dalam rumah kalian. Jika mereka mengerjakan hal demikian, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras/tidak membahayakan. Sementara kewajiban kamu terhadap mereka yaitu memberi nafkah, dan pakaian yang baik kepada mereka.

Maka perhatikanlah perkataanku ini, wahai manusia sekalian. Sesungguhnya aku telah menyampaikannya.

(6) Kewajiban Berpegang Teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah

Aku tinggalkan bagi kamu sekalian. Jika kalian berpegang teguh dengan apa yang aku tinggalkan itu, maka kalian tidak bakal tersesat selama-lamanya. Itulah Kitab Allah (Al-Quran) dan sunnah nabi-Nya (Al-Hadits).

(7) Kewajiban Taat kepada Pemimpin Siapapun Dia Selama Masih Berpegang Teguh pada Al Qur’an.

Wahai manusia sekalian, dengarkanlah dan ta’atlah kalian kepada pemimpin kalian, biarpun kamu dipimpin oleh seorang hamba sahaya dari negeri Habsyah yang berhidung pesek, selama dia tetap menjalankan ajaran Kitabullah (Al- Quran) kepada kalian semua.

(8) Kewajiban Berbuat Baik kepada Hamba Sahaya.

Laksanakanlah sikap yang baik terhadap hamba sahaya. Berikanlah makan kepada mereka dengan apa yang kamu makan dan berikanlah pakaian kepada mereka dengan pakaian yang kamu pakai. Jika mereka mengerjakan sesuatu kesalahan yang tak bisa kamu ma’afkan, maka juallah hamba sahaya tersebut dan janganlah kamu menyiksa mereka.

(9) Umat Islam adalah Bersaudara antara Satu dengan Lainnya.

Wahai manusia sekalian. Dengarkanlah perkataanku ini dan perhatikanlah. Ketahuilah oleh kamu sekalian, bahwa setiap muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, dan seluruh kaum muslimin itu adalah bersaudara. Seseorang tidak dibenarkan mengambil sesuatu yang di punyai saudaranya kecuali dengan kerelaan orang yang memilikinya yang telah memberikannya dengan senang hati. Oleh karena itu janganlah kamu menganiaya diri kamu sendiri.

(10) Kewajiban Menyampaikan Khutbah Rasulullah SAW kepada Orang Lain

Ya Allah, sudahkah aku menyampaikan pesan ini kepada mereka?

Kamu sekalian akan menemui Allah, maka sesudah kepergianku nanti janganlah kamu menjadi sesat sebagaimana sebagian kamu memukul tengkuk sebagian yang lain. Hendaklah mereka yang hadir dan mendengar khutbah ini menyampaikan kepada mereka yang tidak hadir. Mungkin nanti orang yang mendengar berita mengenai khutbah ini lebih memahami dibandingkan mereka yang mendengar langsung pada hari ini.

Kalau kamu semua nanti akan ditanya tentang aku, maka apakah yang akan kamu katakan? Semua yang hadir bergemuruh menjawab, “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan tentang risalah-risalah tuhanmu, engkau telah menunaikan amanah, dan telah memberikan nasehat”. Sambil menunjuk ke langit, Rasulullah kemudian bersabda, ”Ya Allah, saksikanlah pernyataan mereka ini, ya Allah saksikanlah pernyatan mereka ini, ya Allah saksikanlah pernyataan mereka ini”.

Advertisement