Jelaskan Perbedaan Farmakokinetika dan Farmakodinamika

Pada kali ini kita akan Jelaskan Perbedaan Farmakokinetika dan Farmakodinamika. Farmakokinetik dan farmakodinamik yaitu studi mengenai interaksi antara tubuh dan obat. Farmakoterapi, atau memakai obat untuk pengobatan, didasarkan pada 2 konsep: farmakokinetik dan farmakodinamik. Yang paling simpel, farmakokinetik (PK) yaitu bagaimana tubuh memberikan pengaruh pada obat sedangkan farmakodinamik (PD) yaitu bagaimana obat itu memberikan pengaruhnya pada tubuh.

Farmakokinetik, mempunyai asal kata dari bahasa Yunani kuno. Pharmakon yang artinya adalah ‘obat’ dan kinetikos yang artinya adalah ‘bergerak.’ Farmakokinetik menggambarkan bagaimana tubuh bergerak dan memberikan pengaruh pada zat kimia (obat) tertentu dengan begitu obat tersebut bisa mempunyai respon farmakodinamik. Farmakokinetik terdiri dari 4 komponen: penyerapan, distribusi, metabolisme dan ekskresi.

Penyerapan yaitu proses suatu obat memasuki sirkulasi darah. Penyerapan tergantung pada rute administrasi dan bisa berupa enteral (lewat saluran GI, seperti mulut, tabung makanan, atau supositoria rektum) atau parenteral (tidak di saluran GI, seperti suntikan atau obat topikal). Faktor tambahan yang bisa memberikan pengaruh pada jumlah obat yang diserap termasuk formulasi obat, aliran darah ke daerah penyerapan, dan motilitas GI (untuk obat enteral). Contoh: Obat enteral umum meliputi asetaminofen dan ibuprofen. Obat parenteral umum meliputi insulin dan heparin. Beberapa obat, seperti diphenhydramine dan penisilin, memiliki bentuk enetral dan parenteral.

Distribusi yaitu penyebaran obat lewat cairan tubuh dan jaringan ketika ia mengerjakan perjalanan ke tempat kerjanya. Hal ini tergantung pada aliran darah, baik ke daerah di mana obat diberikan dan seluruh tubuh serta pengikatan protein. Kalau obat mengikat protein maka menjadi ‘terjebak’ dan tidak bisa kasih pengaruhnya pada tubuh. Ini merupakan proporsi terbalik: kian banyak obat yang terikat pada protein, tidak banyak yang tersedia untuk distribusi.

Jelaskan Perbedaan Farmakokinetika dan Farmakodinamika

Metabolisme, atau biotransformasi, yaitu pengakuan oleh tubuh bahwa obat tersebut ada dan transformasi obat menjadi bagian yang bisa dipakai. Sebagian besar obat dimetabolisme di hati lewat enzim sitokrom P450 keluarga, tetapi tempat lain mungkin termasuk ginjal dan usus. Contoh: Obat anti kolesterol populer sebagai -statins dan jus Jeruk Bali dimetabolisme menggunakan enzim yang sama di hati dan akan saling melawan untuk itu. Itulah sebabnya mengapa orang-orang yang meminumnya -statins harus menghindari meminumnya dengan jus ini. Ekskresi (juga dikenal sebagai eliminasi) yaitu pengangkatan obat dari tubuh. Situs utama ekskresi yaitu ginjal. Yang lainnya termasuk paru-paru, empedu, air liur, kelenjar keringat dan kulit. Setelah 3-5 setengah hari obat dianggap tidak terdeteksi dan tidak bisa memakai efek farmakodinamik.

Sementara untuk Istilah farmakodinamik berasal dari kata Yunani kuno dynamikós, yang artinya itu ‘kekuatan atau pengeruh’. Farmakodinamik yaitu kekuatan obat tersebut ada pada tubuh. Sebagian besar obat mengikat situs reseptor tertentu di dalam tubuh untuk mengerahkan kekuatan mereka. Konsep farmakodinamik meliputi afinitas, khasiat dan potensi, dan apakah obat tersebut merupakan agonis atau antagonis. Farmakodinamik mencakup efek yang diinginkan dari efek obat maupun yang tak diinginkan, atau efek sampingnya. Sementara Afinitas yaitu daya tarik antara obat dan reseptornya. Penting untuk diketahui terdapat banyak reseptor yang tak sama dalam tubuh dan tak setiap obat bakal menempel pada setiap reseptor. Khasiat yaitu kemampuan obat untuk mengaktifkan reseptor begitu sudah terikat padanya. Sejumlah obat mempunyai afinitas tinggi dan kemanjuran tinggi, sedangkan yang lain mempunyai kadar yang tinggi dan rendah. Bersama-sama, afinitas dan khasiat mempengaruhi potensi, atau jumlah obat yang dibutuhkan untuk menghasilkan efek yang diinginkan. Kian besar afinitas dan kemanjurannya, semakin besar potensi.

Sebuah agonis yaitu obat yang mempromosikan aktivitas reseptor, sementara antagonis blok aktivitas reseptor. Pikirkan obat sebagai kunci. Agonis yaitu kunci yang membuka reseptor yang sebelumnya tidak bisa diterima sedangkan antagonis yaitu kunci yang menghalangi reseptor yang bisa diterima sebelumnya. Contoh: Pertimbangkan skizofrenia dan dopamin neurotransmitter. Skizofrenia dikaitkan dengan peningkatan kadar dopamin. Obat yang dirancang untuk mengurangi gejala skizofrenia yaitu antagonis dopamin; Mereka memblokir reseptor dopamin, dengan begitu mengurangi jumlah dopamin yang tersedia dan gejala pasien membaik.

Efek samping yaitu efek obat yang tidak diinginkan. Efek samping bisa tergantung dosis dan bisa diprediksi (seperti contoh seterusnya), atau tidak dapat diprediksi (seperti reaksi alergi). Contoh: Diphenhydramine (Benadryl) yaitu antagonis histamin. Efek yang diinginkan adalah memblokir reseptor histamin dan menurunkan respon histamin dalam tubuh (seperti gatal). Efek samping, diphenhydramine adalah membuat kebanyakan orang lelah atau mengantuk.

Seterusnya faktor apa saja yang mempengaruhi Farmakokinetik dan Farmakodinamik. Terdapat banyak hal yang bisa mempengaruhi farmakokinetik dan farmakodinamik di dalam tubuh. Inilah sebabnya mengapa setiap orang tidak mengkonsumsi obat-obatan yang sama. Faktor-faktor ini meliputi usia, jenis kelamin, etnisitas, diet dan gizi, dan variasi genetik dalam enzim dan reseptor. Penyakit dan kondisi yang mendasari juga akan mempengaruhi PK dan PD, seperti seseorang yang mengalami penurunan fungsi hati atau ginjal.

Artikel Terkait

Mengapa Suhu di Planet Merkurius dan Venus Sangat Tinggi
Jelaskan Sistem Kerja Gas Rumah Kaca
Jelaskan Tujuan Kegiatan Ekspor dan Impor
Apakah Besok Akan Hujan Jelaskan Tandanya

Perbedaan Farmakokinetika dan Farmakodinamika

Farmakokinetika ialah bagian ilmu farmakologi yang cenderung mempelajari tentang nasib dan perjalanan obat didalam tubuh dari obat itu diminum sampai mencapai tempat kerja obat itu. Farmakokinetik menggambarkan bagaimana tubuh bergerak dan memberikan pengaruh pada zat kimia (obat) tertentu dengan begitu obat tersebut bisa mempunyai respon farmakodinamik. Farmakokinetik terdiri dari 4 komponen: penyerapan, distribusi, metabolisme dan ekskresi. Sementara Farmakodinamika ialah bagian ilmu farmakologi yang mempelajari efek fisiologik dan biokimiawi obat terhadap berbagai jaringan tubuh yang sakit maupun sehat serta mekanisme kerjanya. Farmakodinamik mencakup efek yang diinginkan dari efek obat maupun yang tak diinginkan, atau efek sampingnya.